Baper Liat Temen Nikah?

Alkhamdulillah, tepat pada hari ini, Senin (30/01/2017), saya berhasil menuntaskan bacaan buku Saatnya untuk Menikah karya Mohammad Fauzil Adhim. Ya, kurang lebih dua pekan saya menyelesaikannya. Setidaknya lumayanlah untuk buku yang berjumlah 269 halaman ini.

Sedikit mengupas apa isi dari buku tersebut, pokoknya isinya enggak jauh-jauh dari masalah pernikahan. Tapi lebih tepatnya sebelum masa pernikahan itu terjadi ya guys. Kenapa sih saya pilih baca buku itu? Awalnya sih enggak sengaja ngeliat tuh buku tergeletak di lemari kantor. Tapi setelah diliat-liat karena isinya enggak terlalu banyak dan buat iseng-iseng isi waktu liburan, akhirnya dicomot aja deh.

Setelah dipikir-pikir ternyata ada sesuatu yang berhubungan antara buku yang saya baca dengan realita kehidupan yang saya alami saat itu. Jelas, pasti tentang pernikahan. Ya, tak lama sebelum saya membaca buku itu, dua teman kuliah saya menikah. Memang bukan suatu hal yang aneh, mendengar teman menikah. Tetapi mereka menikah di usia terbilang muda, meski demikian hal ini juga merupakan bukan hal mengejutkan lagi di zaman sekarang. Pasalnya, sekarang sudah marak soal pernikahan muda.

Yang jadi sedikit ‘problem’, adalah teman-teman di sekeliling yang melihat pernikahan temannya itu. Bisa dibilang ‘baper’ ketika melihat teman sezaman kelahiran menikah. Jujur, saya juga merasakan baper.

Pasti ngerasanya, ketika melihat teman nikah jadi pengen cepet nyusul, iya enggak? Saya juga merasakan hal itu. Sepertinya enak ya melihat pasangan yang sudah halal dengan ikatan yang insya Allah penuh berkah itu. Jika dilihat secara kasat mata memang iya, namun dibalik itu banyak hal yang tidak kita ketahui. Wallahu a’lam bi shawab.

Jadi baper boleh-boleh aja sih. Tapi jangan sampe kelewat baper terus menerus sampe lupa makan, mandi, kerja bahkan lupa tidur, karena mikirin kapan saya nikah ya? Hehe.

Mulanya saya juga toh merasakan baper itu, tapi saya enggak seekstrim yang saya jelaskan di atas. Saya juga sempet berdo’a pengen cepet dipinang lalu nikah. Saya kira ini hal yang manusiawi, namun saya juga mencoba menyingkap bagaimana cara menyikapi baper. Seiring dengan berjalannya waktu saya mulai tersadar dan mulai bisa move on dari baper pengen cepet nikah. Itu bukan tanpa alasan. Saya move on setelah membaca buku itu.

Ternyata pemahaman saya tentang menikah mulai berangsur terbuka. Karena buku yang saya baca itu seolah menjawab semua persoalan dan pertanyaan yang kerap menghantui pikiran saya tentang pernikahan.

Nikah itu bukan hanya soal ‘kamu cinta aku cinta kita nikah yuk!’ Bukan. Tidak segampang itu. Tapi ada sederet hal yang harus diketahui dan dipahami. Saya coba untuk meringkasnya saja ya. Hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan menikah itu seperti bekal ilmu, kesiapan psikis, ruhiyah, ekonomi dan masih banyak lagi pokoknya.

Sebenarnya banyak yang ingin saya jelaskan tapi tangan dan otak saya kelu, karena masih sedikit sekali ilmu yang saya miliki. Jika Anda ingin lebih banyak memahami soal ini, masih banyak buku yang membahas tentang ini kok.

Intinya, saya hanya ingin menyampaikan kalau ada temen nikah jangan berlebihan bapernya ya. Bukan tidak boleh lho ya, tapi jangan berlebihan. Sehingga menggebu-gebu niatan pengen nikah karena alasan yang masih dasar.

Bagi yang belum ketemu jodoh seperti saya, yuk perbaiki diri. Memperbaiki diri itu banyak macamnya lho. Perbaiki ibadah, akademik, pekerjaan, prestasi dan masih banyak lagi. Insya Allah masalah jodoh akan dipertemukan di waktu yang tepat. Barangkali sembari memperbaiki diri kita dipertemukan jodoh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s