Sesuatu yang Harus Dibenci Itu Bernama Malas

Sampai sekarang saya masih tidak percaya, saya sedang menjajaki dunia perkuliahan. Ya, sekarang saya sedang kuliah memasuki semester enam. Itu artinya, dua semester lagi, genap menjadi semester delapan dan dunia perkuliahan akan berakhir.

Yang saya rasakan hari ini, sama seperti saat saya akan lulus sekolah menengah atas, merasakan kebimbangan. Sekitar tiga tahun lalu, tepatnya pada 2014, saya dihadapkan pada berbagai pilihan.

“Setelah lulus sekolah, mau kerja atau kuliah?” itulah segelintir pertanyaan yang kerap muncul dalam hari-hari saya waktu itu. Hingga akhirnya saya melanjutkan kuliah dengan mendapatkan beasiswa Bidik Misi.

Sekarang, saya mengalami kegalauan yang melebihi saat mau keluar SMA. Menurut saya kali ini harus lebih hati-hati dalam mengambil keputusan setelah wisuda. Jujur, saya adalah tipe orang yang sistematis dan perfeksionis. Ya, saya cenderung orang yang suka mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang, jadi enggak bisa dadakan. Karena saya menginginkan sesuatu yang sesuai rencana dan mendekati sempurna.

Melalui tulisan ini, saya ingin introspeksi diri. Tidak disangka, nilai Indeks Prestasi (IP) semester lima saya turun. Dari yang dulunya 3,sekian menjadi 3,sekian. Jleb banget, pokonya lebih kecil banget banget. Tapi kalau dipikir-pikir mungkin inilah yang terbaik yang harus saya terima. Ini sudah pasti, karena saya kurang usaha dan persiapan yang matang saat mau ujian.

Saya juga tidak akan menyalahkan banyaknya aktivitas yang saya geluti sehingga nilai ujian saya jeblok. Kalau dipikir, aktivitas yang saya tekuni tiap hari itu, kuliah, kerja, dan organisasi. Dan saya tidak akan menyalahkan aktivitas saya itu yang membuat nilai IP saya kecil. Tidak sama sekali.

Meskipun begitu, pasti ada yang salah dan harus diperbaiki. Setelah saya berpikir panjang, ada satu yang membuat saya tersentak bahkan hampir menangis. Ini serius.

Sedikit selingan, asal kalian tahu, di awal memasuki semester lima saya susun rencana-rencana yang akan saya lakukan selama semester lima. Semua yang saya tulis itu yang baik-baik dan bagus-bagus.

Contoh, IP semester lima 3,sekian minimal, fokus organisasi, fokus sekolah TOEFL, sehari tilawah satu juz, belajar mata kuliah setiap malam dan masih banyak lagi. Kenyataannya apa yang terjadi? Itu semua nol.

Bagaimana mau fokus organisasi kalau tiap ada kumpulan itu malas berangkat. Bagaimana mau fokus TOEFL, kalau banyak alasan ini itu, capeklah, enggak diawas inilah itulah. Bagaimana mau tilawah sehari satu juz, bosenlah inilah itulah. Belajar mata kuliah setiap malam? Boro-boro, tidur enak. Alhasil semua hanya penyesalan setelah nilai IP turun. Nangis bombay.

Intinya, semua rencana yang ditulis terbaik dan terbagus itu belum tentu perbuatannya pun demikian. Tulisan itu diibaratkan patokan, landasan saat seseorang akan melakukan sesuatu. Tulisan itu harusnya bukan sekadar tulisan, tapi harus dibarengi komitmen melakukan. Ini bukan soal yang mudah, tapi harus ditaklukan.

Lalu apa yang salah dari semua itu? Apa yang harus diperbaiki?

Jika menengok yang terjadi di semester lima itu, saya tarik kesimpulan masalahnya adalah pada diri saya sendiri. Saya juga aneh dengan diri saya sendiri. Padahal ini yang saya kelola, yang saya mau, tapi yang saya hianati juga. Inilah masalahnya karena menghianati diri sendiri jadi konsekuensinya pun terserah diri sendiri. Lama-lama sebenarnya ini yang lebih berbahaya.

Nah, dari masalah diri sendiri itu misalnya rasa malas. Semua orang pernah merasakan hal ini. Tapi bagaimana cara menghindarinya? Tiap orang memiliki cara tersendiri untuk menghalangi rasa malas ini. Tidak dipungkiri, ada juga orang yang terkadang membiarkan rasa malas ini menyelimuti dirinya, termasuk saya. Dan inilah yang membuat saya menyesal.

Menurut saya, malas itu sama saja dengan menyia-nyiakan waktu. Yang harusnya untuk belajar, malah tiduran. Yang harusnya kumpul organisasi, malah di kosan. Itu contoh kecilnya.

Kembali ke pertanyaan, apa yang harus diperbaiki?

Saya akan mulai menyusun kembali rencana di semester enam. Namun, saya tuliskan yang memang benar-benar penting. Saya akan coba menguranginya, tidak muluk-muluk asal tercapai. Lalu, saya akan belajar membenci malas. Saya sugestikan, jika saya malas maka saya miskin. Miskin di sini bukan hanya miskin berupa materil. Tapi bisa miskin ilmu dan miskin pengalaman.

Saya tidak akan berteman dengan malas apalagi bersahabat dengannya. Saya akan lebih banyak meluangkan waktu di luar kosan. Bismillahirrahmanirrahim. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mudahkan semuanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s